POLIO
Kisah Keluarga yang Kena Polio
Karena Tak Divaksin
Detik Health, Jakarta - Polio merupakan momok penyakit
karena dapat menyebabkan kelumpuhan, sulit bernapas bahkan kematian. Penyakit
ini sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi, namun beberapa keluarga harus
menanggung kisah tragis kematian atau kelumpuhan karena tak mendapatkan vaksin.
Salah
satu contoh tragis polio menimpa keluarga dari Janice Flood Nichols. Pada tahun
1953, sebuah epidemi polio menyerang pinggiran kotanya di DeWitt, New York. Di
kelasnya dari 24 anak, 8 diantaranya tertular polio, termasuk Janice dan saudara
kembarnya Frankie.
Frankie
meninggal dunia setelah 61 jam berada di rumah sakit. Saat penguburan saudara
kembarnya, Janice pun dalam kondisi lumpuh layu karena polio. Tragisnya,
beberapa hari kemudian ibunya mengalami keguguran, yang juga akibat wabah
polio. Dua temannya pun meninggal dunia karena komplikasi beberapa tahun setelah
tertular penyakit polio. Janice termasuk beruntung karena bisa pulih fisik
secara lengkap karena perawatan medis yang sangat baik dan terapi jangka
panjang. Tapi saat hamil, ia harus melalui operasi caesar karena sakrum (tulang
kelangkang) mengalami kelumpuhan dan otot lemah.
Pada
tahun 1990-an, ia pun mulai mengembangkan gejala-gejala aneh yang dikenal
dengan post-polio syndrome. "Meskipun saya selalu lebih beruntung dari penderita
polio kebanyakan, tapi pertarungan dengan polio terus terjadi dari 1953 dan
menyerang hidup saya. Sebagai survivor,
saya muak polio masih belum eradikasi dan dengan beberapa orangtua yang
mempertanyakan perlunya dan keamanan vaksinasi. Orangtua yang menolak vaksinasi
seperti sedang bermain api," tegas Janice Flood Nichols, yang juga pernah
menulis buku 'Twin Voices: A Memoir of
Polio, the Forgotten Killer', seperti dilansir chop.edu, Rabu (20/6/2012).
Kisah
tragis keluarga yang terserang polio tidak hanya menyerang Janice. Di Indonesia
pun kasus polio pernah menyerang satu keluarga di Mayak Kidul, Cibeber,
Cianjur, Jawa Barat. Seperti diberitakan detikTV, 8 Februari 2012, satu
keluarga harus menjalani hidup dengan cara tragis. 6 anggota keluarga yang
terdiri dari Eti (50 tahun), Iroh (45 tahun) dan Biah (37 tahun) terkena polio
sejak kecil, akibatnya mereka kesulitan berjalan dan melakukan aktivitas. Ironisnya, Bidin (17 tahun) dan Farlan (5
tahun), anak dari Biah juga kesulitan berjalan karena polio. Begitu pula Mira
(6 tahun), anak Iroh.
Penderitaan
ini bermula pada saat Eti, Iroh dan Biah berusia balita. Ketiganya terserang
panas tinggi dan dokter Puskesmas mendiagnosis polio. Penyakit polio tidak
diturunkan pada generasi berikutnya tapi penyakit ini memang bisa menular.
Polio disebabkan oleh infeksi poliovirus dan penularannya terjadi melalui rute
fekal-oral.
Virus
polio dapat hidup dalam tinja penderita selama 90-100 hari. Virus ini juga
dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai
berkilo-kilometer dari sumber penularan. Polio menyebar terutama melalui
kontaminasi tinja, terutama di daerah dengan sanitasi lingkungan buruk.
Penularan juga terjadi melalui fekal-oral. Artinya makanan atau minuman yang
tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk ke mulut orang
sehat lainnya. Sedangkan oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita
yang masuk ke dalam mulut manusia sehat lainnya. (mer/ir)
ANALISIS KASUS
Apa?
Kisah
keluarga yang terkena penyakit Polio yang merupakan momok penyakita yang dapat
menyebabkan kelumpuhan, sulit bernapas bahkan kematian. Penyakit ini sebenarnya
dapat dicegah dengan vaksinasi, namun beberapa keluarga harus menanggung kisah
tragis kematian atau kelumpuhan karena tak mendapatkan vaksin.
Siapa?
Keluarga
yang menderita penyakit tragis macam polio ini ialah:
1.
Keluarga
dari Janice Flood Nichols. Pada tahun 1953, sebuah epidemi polio menyerang
pinggiran kotanya di DeWitt, New York. Di kelasnya dari 24 anak, 8 diantaranya
tertular polio, termasuk Janice dan saudara kembarnya Frankie.
2.
Di
Indonesia pun kasus polio pernah menyerang satu keluarga di Mayak Kidul,
Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. 6 anggota keluarga yang terdiri dari Eti (50
tahun), Iroh (45 tahun) dan Biah (37 tahun) terkena polio sejak kecil,
akibatnya mereka kesulitan berjalan dan melakukan aktivitas. Ironisnya, Bidin (17 tahun) dan Farlan (5
tahun), anak dari Biah juga kesulitan berjalan karena polio. Begitu pula Mira
(6 tahun), anak Iroh.
Dimana?
Pada
kasus ini keluarga penderita polio masing-masing terjadi di pinggiran kotanya
DeWitt, New York. Dan pada keluarga satunya lagi terjadi di Mayak Kidul,
Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia.
Bagaimana?
Dalam
Kasus keluarga yang terkena Polio ini disebabkan oleh infeksi poliovirus dan
penularannya terjadi melalui rute fekal-oral. Virus polio dapat hidup dalam
tinja penderita selama 90-100 hari. Virus ini juga dapat bertahan lama pada air
limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber
penularan. Polio menyebar terutama melalui kontaminasi tinja, terutama di
daerah dengan sanitasi lingkungan buruk. Penularan juga terjadi melalui
fekal-oral. Artinya makanan atau minuman yang tercemar virus polio yang berasal
dari tinja penderita masuk ke mulut orang sehat lainnya. Sedangkan oral-oral
adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk ke dalam mulut manusia
sehat lainnya.
Maka diperlukan vaksinasi seperti yang Janice katakan dengan tegas.
MASALAH APA YANG
TERJADI DI SISTEM SARAF PUSAT HINGGA PARA KELUARGA PADA KASUS DI ATAS MENGALAMI
POLIO?
Poliomielitis (polio, paralisis infantil)
disebabkan oleh sejenis virus yang terdiri dari 3 serotipe, yaitu: PV1, PV2,
dan PV3. Cara penularan penyakit ini dari manusia ke manusia melalui jalur
fekal-oral. Manifestasi poliomielitis disebabkan karena penyebaran virus yang
menginfeksi dan bereplikasi di dalam sel-sel sistem saraf pusat. Karakteristik
dan bentuk manifestasi klinik yang paling berat dari infeksi polio ialah polio
paralitik yang biasanya menyebabkan paralisis permanen asimetris pada tungkai.
Diagnosis poliomielitis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Program rehabilitasi medik diterapkan pada fase akut,
fase sub akut, fase penyembuhan, dan fase kronis poliomyelitis.
Poliomielitis (polio, paralisis
infantile)adalah penyakit menular oleh infeksi virus yang bersifat akut.
Predileksi virus ialah merusak sel-sel neuron motorik kornu anterior masa
kelabu medula spinalis (anterior horn cells of the spinal cord) dan batang otak
(brain stem) yang berakibat kelemahan atau kelumpuhan otot (paralisis flaksid
akut) dengan distribusi dan tingkat yang bervariasi serta bersifat permanen.
Poliovirus masuk kedalam tubuh melalui
mulut, menginfeksi sel yang pertama ditemuinya, yaitu di faring dan mukosa saluran
cerna. Virus ini masuk dan berikatan dengan immunoglobulin-like receptor, yang
dikenal sebagai reseptor poliovirus atau CD 155, pada membran
sel.
Di dalam sel-sel saluran cerna, virus ini bertahan selama sekitar 1 minggu, kemudian
menyebar ke tonsil, jaringan limfoid saluran cerna dan kelenjar limfa mesenterik
dan servikal dimana virus ini
berkembang
biak. Selanjutnya, virus ini masuk ke dalam aliran darah. Poliovirus dapat bertahan
dan berkembang biak dalam darah dan kelenjar limfa untuk waktu lama, kadang-kadang
hingga 17 minggu.
Poliomielitis adalah suatu penyakit paralisis
atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia
dan manusia merupakan satu-satunya reservoir untuk poliomielitis. Poliomielitis
sedikit lebih banyak menyerang anak lakilaki dibandingkan anak perempuan, dan lebih
sering dialami oleh anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi, terutama bagi mereka
yang tinggal di daerah yang penduduknya padat dan dengan sanitasi yang buruk.
Poliomielitis disebabkan oleh infeksi dari genus enterovirus yang dikenal
dengan poliovirus. Terdapat tiga serotipe dari poliovirus, yaitu: poliovirus
tipe 1
(Brunhilde/PV1),
tipe 2 (Lansing/PV2), dan tipe 3 (Leon/PV3). Transmisi penyakit ini sangat
mudah lewat oral-oral (orofaringeal) dan fekal-oral (intestinal). Polio sangat
infeksius antara 7-10 hari sebelum dan sesudah timbulnya gejala, tetapi transmisinya
mungkin terjadi selama virus berada di dalam saliva atau feses.
Virus polio ditularkan lewat jalur
fekal-oral. Virus dapat diisolasi dari sistem limfatik saluran cerna manusia termasuk
tonsil, Peyer’s patch, dan kelenjar getah bening usus, juga dalam feses.
Replikasi awal virus pada sel yang rentan infeksi di faring dan saluran cerna
sebagian besar akan menimbulkan viremia minor dan singkat, serta asimtomatik.
Apabila infeksi berlanjut, virus akan menyebar lebih luas pada jaringan
retikuloendotelial lainnya. Dilaporkan 95% infeksi primer ini asimtomatik, dan
pada 4%-8% infeksi sekunder akan muncul sebagai gajala infeksi virus non
spesifik. Apabila infeksi tersebut
sudah
menginvasi sistem saraf, dapat terjadi meningitis aseptik pada 1%-2% kasus, dan
terjadi polio paralitikpada 0,1%-1% kasus.Berdasarkan manifestasi klinis
spesifik, poliomyelitis paralitik tanpa gejala sensoris dan gangguan fungsi kognitif.
Secara klinis, polio diklasifikasikan sebagai berikut,
1.
Poliomielitis spinal, ditandai dengan acute flaccid
paralysis
(AFP) atau lumpuh layu akut, sekunder
akibat
destruksi selektif dari motor neuron pada
medula
spinalis dan sekuens denervasi dari struktur
muskuloskeletal
yang terlibat
2.
Poliomielitis bulbar, terdapat paralisis otot
pernafasan
akibat serangan virus pada neuron di
batang
otak yang mengontrol pernafasan
3.
Poliomielitis bulbo-spinalis akibat kerusakan
batang
otak dan medula spinalis.
Poliomielitis merupakan penyakit menular yang
dapat menyebabkan paralisis ireversibel dan kematian pada anak. Predileksi
virus polio pada sel kornu anterior medula spinalis, inti motorik batang otak dan
area motorik korteks otak, menyebabkan kelumpuhan serta atrofi otot. Dunia
sangat beruntung karena ditemukan vaksin yang efektif untuk mencegah polio.
Dikenal dua jenis vaksin polio, yaitu oral polio vaccines (OPV) dan inactivated
polio vaccines (IPV). Namun terdapat masalah, yaitu circulating vaccine derived
polio viruses (cVDPVs) dan kejadian vaccine associated paralytic poliomyelitis
(VAPP), yang merupakan kasus polio paralitik yang disebabkan oleh virus vaksin.
Maka
pemakaian OPVdiubah dari tOPV menjadi bOPV.
PENCEGAHAN/SARAN
PRAKTIS
Pencegahan
dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif dan menghindari daerah
endemis.
BANTUAN DAN
PERTOLONGAN TERHADAP ANAK YANG MENDERITA POLIO
1.
Latihan
lingkup gerak sendi.
2.
Latihan
duduk dengan memakai sandaran yang membantu mencegah kontraktur.
3.
Latihan
aktif extremitas inferior dengan bantuan, untuk meningkatkan kekuatan dan
mempertahankan lingkup gerak sendi.
4.
Latihan
di dalam air, dengan berjalan, mengapung, dan berenang.
5.
Wheelboard
atau wheelchair dengan bantuan untuk mencegah atau mengoreksi kontraktur dini.
Juga melatih lengan untuk persiapan penggunaan crutches.
6.
Penggunaan
braces untuk mencegah kontraktur dan persiapan untuk berjalan.
7.
Latihan
mulai berjalan dan untuk keseimbangan di parallel bar.
8.
Berjalan
dengan machine atau walker.
9.
Menggunakan
crutches yang di modifikasi seperti walker untuk keseimbangan.
10. Menggunakan under arm crutches.
11. Menggunakan forearm cruthes.
12. Menggunakan cane atau tanpa bantuan pada
ekstremitas superior.
GEJALA KLINIK PADA
POLIO
1.
Jenis asimtomatis
Setelah
masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala klinik sama sekali karena daya
tahan tubuh cukup baik. Jenis ini banyak terdapat waktu epidemi.
2.
Jenis abortif
Timbul
mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala seperti infeksi
virus lainnya, yaitu: malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri
tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.
3.
Jenis non-paralitk
Gejala
kliniknya hampir sama dengan poliomielitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea,
dan muntah lebih hebat. Terdapat tanda-tanda rangsangan meningeal tanpa adanya
kelumpuhan. Suhu bisa naik sampai 38-39o C disertai nyeri kepala dan nyeri
otot. Bila penderita ditegakkan, kepala akan terjatuh kebelakang (head drops).
Bila penderita berusaha duduk dari sikap tidur maka kedua lututnya ditekuk
dengan menunjang kebelakang dan terlihat kekakuan otot spinal (tripod sign).
4.
Jenis paralitik
Gejala
kliniknya sama seperti pada jenis non-paralitik, kemudian disertai kelumpuhan
yang biasanya timbul 3 hari setelah stadium preparalitik.
DAFTAR PUSTAKA
Health.detik.com. 2012. Kisah Keluarga yang Kena Polio Karena Tak
Divaksin. https://health.detik.com/ulasan-khas/1946385/kisah-keluarga-yang-kena-polio-karena-tak-divaksin.
Diakses pada Rabu, 20 Juni 2012 16:22 WIB.
Pontoh, Angliadi. Jurnal Biomedik
(JBM), Volume 7, Nomor 2. (2015). Rehabilitasi
medik pada poliomyelitis. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/9327/8901
Diakses pada bulan Juli 2015.
Pediatri,
Sari. Vol. 18, No. 3. (2016). Eradikasi
polio. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/1061/pdf. Diakses pada bulan Oktober 2016.

Komentar
Posting Komentar